Sayur Kangkung dan Pengalaman Tak Terhitung

HARI itu, angin sepoi-sepoi menyapu dedaunan di demplot sederhana yang terletak di belakang kantor Balai Penyuluhan Pertanian Kecamatan Kaidipang. Cahaya matahari menyentuh hijau subur tanaman kangkung yang berbaris rapi di lahan seluas tak lebih dari beberapa meter persegi. Namun, di lahan yang kecil ini, tersimpan kisah penuh pengalaman bagi sekelompok siswa SMK yang menanamnya.
Dua pekan lebih telah berlalu sejak para siswa tersebut memulai praktik budidaya kangkung di sini. Di bawah bimbingan Harun Uping dan Syarif Bolota, dua penyuluh senior BPP Kaidipang, mereka belajar bukan hanya tentang cara menanam, tetapi juga tentang ketekunan dan tanggung jawab. Sebuah pengalaman yang, mungkin tanpa mereka sadari, akan terus melekat seiring perjalanan hidup mereka.
“Ini kangkung umurnya sudah 20 hari. Sebentar lagi akan panen,” ujar Harun, saat berbincang-bincang di BPP Kaidipang, Senin (14/10/2024).
Saat Harun becerita, ia mengingat, hari pertama para siswa tiba di demplot, wajah-wajah mereka penuh antusiasme. Mereka datang dengan seragam SMK yang rapi, membawa harapan besar untuk menambah ilmu di luar ruang kelas. Harun yang telah menghabiskan waktu bertahun sebagai penyuluh pertanian, menyambut mereka dengan senyum penuh kebapakan. Di sampingnya, Syarif Bolota berdiri, siap membimbing para siswa muda ini menghadapi tantangan pertama mereka: menanam kangkung.
"Kita mulai dari yang sederhana, kangkung. Tapi ingat, sederhana bukan berarti mudah," ujar Harun saat memberi pengarahan. Dengan tangan kokohnya, ia menunjukkan bagaimana menanam benih-benih kecil itu ke dalam tanah yang telah dipersiapkan. Para siswa menyaksikan dengan penuh perhatian, sebelum kemudian mereka bergantian melakukan hal yang sama.
Hari demi hari, mereka rutin datang ke demplot. Kangkung yang ditanam mulai menunjukkan pertumbuhan, menyembul dari permukaan tanah dengan daun-daun mungil yang perlahan membesar. Setiap kali mereka datang, ada kepuasan tersendiri saat melihat perubahan pada tanaman mereka. “Melihat kangkung ini tumbuh seperti melihat hasil kerja keras kita sendiri,” ujar salah satu siswa dengan bangga.
Harun dan Syarif, dengan kesabaran yang tak terbatas, terus mendampingi mereka. Setiap kesalahan dikoreksi, dan setiap pencapaian kecil diberi apresiasi. “Mereka bukan hanya belajar menanam, tapi juga memahami bahwa setiap tanaman butuh perhatian dan kerja keras untuk bisa tumbuh dengan baik,” kata Syarif suatu pagi ketika memantau pertumbuhan kangkung bersama para siswa.
LEBIH DARI PELAJARAN
Lebih dari dua pekan mungkin terasa singkat, tetapi bagi siswa-siswa ini, pengalaman di demplot tersebut adalah sesuatu yang tak terhitung nilainya. Mereka belajar bagaimana menjaga tanaman dan mengenal pentingnya tanah yang subur. Di samping itu, mereka juga merasakan bahwa menanam adalah sebuah proses yang mengajarkan kesabaran, kerja sama, dan rasa tanggung jawab.
Demplot sederhana ini, meskipun kecil, telah menjadi ruang belajar yang luas. Lebih dari sekadar teknik pertanian, lahan ini menyimpan pengalaman berharga tentang bagaimana sesuatu yang kecil seperti tanaman kangkung bisa membawa pelajaran hidup yang begitu besar.
PELAJARAN DARI ALAM
Kini, ketika para siswa menanam kangkung di demplot itu, terlihat gestur tubuh mereka menyimpan rasa ingin tahu. Harun dan Syarif, dengan pengalaman panjang mereka, tahu bahwa ini baru awal. Apa yang telah mereka tanam bersama para siswa bukan hanya kangkung, tetapi juga benih pemahaman tentang bagaimana manusia dan alam bisa tumbuh bersama.
Sebentar lagi, ketika kangkung-kangkung itu dipanen dan diolah, hasilnya mungkin akan segera habis dinikmati. Namun, pelajaran dan pengalaman dari lahan kecil itu akan tetap tumbuh dan berkembang, bersama setiap langkah yang diambil oleh para siswa menuju masa depan mereka. (***)
Pewarta Adriandzah Mansyur, SP