Bolmut Menuju Mandiri Benih, Panen Varietas Padi IPB Sesuai Ekspektasi

BOLMUT - Pemerintah Kabupaten Bolmut membuat lompatan strategis dalam upaya mewujudkan swasembada beras di tengah tantangan pembangunan pertanian. Strategi yang digerakkan antara lain penyelesaian problem pada bagian hulu melalui pemenuhan benih unggul padi yang dikembangkan berdasarkan riset kesesuaian lahan dan varietas sehingga menghasilkan benih padi khas Bolmut.
Sejalan dengan target itu, beberapa bulan lalu, Pemerintah Kabupaten Bolmut telah mengembangkan 8 varietas padi IPB yang diperbanyak melalui penangkaran benih di Desa Olot, Kecamatan Bolangitang Barat. 8 Varietas yang dimaksud meliputi : IPB 9G, IPB 9G ILV, IPB 3S, IPB 11S, IPB 12S, IPB 13S, serta IPB 14S dan IPB 15S.
Hasilnya pun sesuai ekspektasi. Panen perdana di penangkaran benih padi IPB tersebut berhasil terlaksana, Selasa (15/10/2024).
Hadir langsung dalam panen tersebut Penjabat Sekretaris Daerah Dr. Abd. Nazarudin Maloho, M.Si, Kepala Bapelitbang Aroman Talibo, SPt, Kadis Pertanian Siska Nurcahyani Babay, SPt, M.Si, beserta para penyuluh dan perwakilan kelompok tani. Agenda juga dihadiri oleh Tim Pakar dari IPB masing-masing Dr. Ir. Mujio dan Prof. Dr. Ir. Iskandar Lubis serta Dr. Ir. Sri Purwanti, SPt, M.Si, IPM. ASEAN, Eng. dari Universitas Hasanuddin.
Siska menjelaskan, benih padi varietas IPB yang dibudidayakan pada lahan penangkaran benih di Desa Olot masih benih label kuning atau dikenal benih penjenis (breeder seed). Benih ini berasal dari hasil pemuliaan tanaman yang mempunyai sifat kemurnian yang sangat murni.
Oleh karena itu, sebelum menjadi benih sebar yang dapat dijual ke pasar, hasil penangkaran masih harus melalui beberapa tahapan lagi.
"Masih dua tahapan lagi sebelum dapat dikeluarkan ke pasar, baik untuk pemenuhan kebutuhan benih petani padi di Bolmut hingga dapat dipasarkan ke luar daerah,” ujarnya.
Sebagai informasi, label benih terdiri dari empat. Meliputi : benih label kuning, benih label putih, benih label ungu dan terkahir benih label biru. Peruntukan benih budidaya di kalangan petani yang akan diambil hasilnya untuk konsumsi adalah benih label biru atau benih sebar.
Sebelumnya, berdasarkan perkiraan produktivitas per hektar menggunakan teknik ubinan pada lahan penangkaran seluas 2,5 x 2,5 meter, hasil benih varietas IPB jauh lebih baik dibandingkan benih varietas lokal. Sebagai contoh, hasil varietas IPB 9G.ILV dan IPB 11 S masing-masing mencapai 4,16 dan 4,2 ton per ha GKP. Untuk ukuran benih penjenis capaian ini cukup memuaskan. Dua kali lebih tinggi setelah dibandingkan pengukurannya dengan benih varietas lokal yang hanya mencapai 2,3 ton per ha GKP.
Selain itu, hasil monitoring perbandingan pertumbuhan vegetatif dan generatif, benih perbanyakan varietas IPB berada di atas rata-rata bila dibandingkan dengan varietas lokal seperti Berlian dan Touti.
Benih varietas IPB lebih unggul bila ditinjau dari parameter ilmiah seperti jumlah anakan produktif, tinggi tanaman, lebar daun dan batang, serta panjang malai. Benih ini juga memiliki imun yang baik untuk pertahanan terhadap hama dan penyakit.
Siska mengatakan, pengembangan benih varietas IPB merupakan upaya kongkrit Pemerintah Kabupaten Bolmut untuk meningkatkan produktivitas padi melalui penggunaan varietas unggul. Sesuai riset IPB, jika benih varietas ini berhasil dikembangkan, potensi hasilnya mencapai di atas 10 ton per ha.
"Jadi, kita akan berupaya memaksimalkan rangkaian kegiatan proses penangkaran benihnya. Bila mencapai target. , prediksinya kita, produksi gabah Bolmut akan mengalami kenaikan signifikan. Kalau saat ini hasil ditingkat petani paling tinggi berkisar 4-5 ton per ha," katanya.
Siska pun berharap, program sinergitas pengembangan benih unggul padi antara Pemerintah Kabupaten Bolmut dan IPB mendapat respon positif dari semua pihak. Arah besarnya tidak lain untuk memberikan dampak pada kemajuan sektor pertanian Bolmut, meningkatkan kesejahteraan petaninya, mendorong pertumbuhan ekonomi daerah serta menjadikan Bolmut sebagai daerah mandiri benih yang pantas diperhitungkan dalam kontribusinya terhadap ketahanan pangan nasional. (***)
Pewarta : Adriandzah Mansyur, SP