Sebulan Panen Cabai, Beli Yamaha Nmax Tunai

Siapa sangka, seorang petani di perbukitan terjal Desa Saleo I, Kecamatan Bolangitang Timur, mampu membeli Yamaha Nmax secara tunai hanya sekitar sebulan, setelah empat kali panen cabai? Masripan Lantapa, yang memulai usaha bertani cabai di perbukitan sejak November 2023 membuktikan, hasil kerja kerasnya menjadi keuntungan besar. Lalu apa yang membuatnya sukses bertani cabai perbukitan?
_____________
SECARA umum, keberhasilan bertani cabai ditentukan penerapan teknologi budidaya cabai yang sesuai anjuran umum berdasarkan kajian agronomis. Namun, karena lokasi lahan berada di ketinggian bukit yang luas tanpa irigasi serta modal dan sumber daya terbatas, Masripan punya cara tersendiri. Pengetahuannya bukan melalui pembuktian metode ilmiah, melainkan dasar pengalaman. Berikut rahasianya.
Posisi lahan Masripan di kemiringan 45 derajat. Oleh karena itu, ia sangat berhati-hati dalam setiap langkahnya. Ia sadar lahannya bergantung sepenuhnya pada curah hujan. Karena itu, Masripan memulai menanam cabai pada bulan november. Biasanya ini adalah waktu dimana kondisi iklim basah
Selanjutnya adalah pemilihan benih cabai. Ia memastikan benih yang terpilih dalam kondisi utuh, tidak terbelah. Benih disemai pada bedeng dan rutin dilakukan penyiraman.
Bibit cabai baru dipindahkan ke lahan utama hanya setelah berumur lebih dari dua bulan. Konsep ini berbeda dengan anjuran agronomis yang sebaiknya bibit dipindahkan ke lahan utama saat berumur antara 27 sampai 32 hari.
Akan tetapi, Masripan punya alasan tersendiri. Ia memilih memindahkan bibit ke lahan utama pada usia lebih dari 2 bulan untuk memberikan waktu yang cukup bagi bibit untuk berkembang menjadi lebih kuat sebelum harus bergantung sepenuhnya pada kelembaban dari hujan.
Saat penanaman, waktu yang dipilih sore hari. Ini bertujuan untuk menghindari stres pada tanaman akibat terik matahari. Masripan juga memantau kondisi cuaca dengan cermat. Penanaman hanya dilakukan saat ada tanda-tanda hujan. Jika tidak, Masripan menunda penanaman hingga kondisi cuaca memungkinkan. Strategi ini memastikan tanaman mendapatkan kelembaban alami yang optimal untuk pertumbuhannya.
Selama proses tanam, Masripan memanfaatkan tenaga kerja lokal. Ia menyewa pekerja dengan upah Rp 120 ribu per hari. Khusus untuk panen, upah dibayar per kilogram. Jika harga cabai di pasaran lagi baik, upah dipatok hingga 10 ribu pe kilogram. Dengan menggunakan tenaga kerja lokal, Masripan tidak hanya mempercepat proses bertani tetapi juga membantu perekonomian setempat.
Keberhasilan Masripan dalam mencapai hasil panen yang signifikan dalam waktu singkat adalah bukti nyata dari strategi bertani yang teliti dan pemanfaatan sumber daya manusia secara efektif. Dengan hasil panen yang memuaskan, ia berhasil membeli sepeda motor Yamaha Nmax secara tunai. Sebuah pencapaian yang mengilustrasikan dedikasi dan keberhasilannya dalam bertani di lahan lereng yang menantang.
Sebagai tambahan, Masripan Lantapa adalah petani binaan dari Firman Pangalima, SP, penyuluh BPP Bolangitang Timur wilayah binaan Saleo I. Untuk informasi lebih lanjut mengenai lahan cabai dan hasil panen Masripan, silahkan baca berita sebelumnya yang dipublikasikan di portal distanbolmut.go.id dengan judul "Emas Merah di Bukit Bolasa" dan "Mendaki Gunung, Melewati Sungai, Menuju Petani Cabai." Uraiannya bukan saja menginsiprasi, tapi juga dikemas dengan menarik. (***)
pewarta : Adriandzah Mansyur, SP